Penyimpanan & Pengemasan Simplisia: Suhu, Kelembaban, Standar ASEAN, Teknologi, dan SOP Lengkap

Penyimpanan & Pengemasan Simplisia: Suhu, Kelembaban, Standar ASEAN, Teknologi, dan SOP Lengkap

Penyimpanan & Pengemasan Simplisia: Pengaruh Suhu dan Kelembaban, Standar ASEAN–WHO–Farmakope, Teknologi, serta SOP Lengkap

Panduan praktis dan komprehensif untuk menjaga mutu simplisia di iklim tropis. Kita bahas bagaimana suhu dan kelembaban relatif (RH) memengaruhi water activity, jamur, oksidasi, volatilitas, perubahan organoleptik, dan umur simpan; dilengkapi standar ASEAN (Zone IVa/IVb), WHO, dan Farmakope Indonesia, beserta toolbox teknologi, pilihan kemasan, tata letak gudang, penanganan palet, serta SOP penerimaan–penyimpanan–distribusi.

Catatan: Angka suhu/RH adalah kisaran praktik umum untuk simplisia kering. Selalu setel spesifikasi final mengikuti monografi komoditas, standar internal, dan regulasi setempat.

Pendahuluan

Simplisia adalah bahan alam yang sengaja dikeringkan untuk dijadikan bahan baku obat tradisional, jamu, pangan fungsional, hingga kosmetik. Walau “kering”, simplisia masih aktif secara kimia—enzim residual, senyawa aromatik, fenolik, alkaloid—yang sensitif terhadap panas, oksigen, uap air, dan cahaya. Di iklim panas–lembap seperti Asia Tenggara, dua musuh utama gudang simplisia adalah suhu tinggi dan kelembaban tinggi. Keduanya mempercepat degradasi dan memicu jamur.

Tujuan penyimpanan yang baik adalah mengendalikan laju penurunan mutu dengan menjaga lingkungan (T, RH, cahaya, oksigen) dan menggunakan kemasan/palet/tata letak yang tepat, sembari menerapkan SOP yang konsisten. Artikel ini adalah pedoman praktik lapangan yang bisa diterapkan mulai dari UMKM hingga pabrik skala besar.

Pengaruh Suhu terhadap Stabilitas

Secara umum, kenaikan suhu mempercepat reaksi kimia (pendekatan Arrhenius). Dalam praktik gudang, banyak pelaku menggunakan pendekatan Q10: laju reaksi kira-kira meningkat 2× untuk setiap kenaikan 10 °C. Dampaknya pada simplisia:

  1. Oksidasi fenolik, terpenoid, dan lipid → warna menggelap, bau berubah, nilai penanda (marker) turun.
  2. Aktivitas enzim residual meningkat → degradasi glikosida/komponen aktif.
  3. Volatilitas naik → minyak atsiri menguap, potensi aromatik menurun, massa berkurang.
  4. Difusi uap air lebih cepat → mempercepat fluktuasi kadar air internal.

Target pragmatis gudang tropis: suhu ≤ 25–30 °C. Untuk simplisia sangat aromatik (daun mint, kulit kayu manis), semakin rendah suhu semakin baik sepanjang tidak memicu kondensasi (lihat bagian interaksi).

Risiko Suhu Terlalu Rendah

Suhu rendah memang melambatkan reaksi, tetapi transisi dari suhu rendah ke suhu gudang dapat menghasilkan kondensasi. Embun di permukaan dalam kemasan adalah titik mulai koloni jamur. Karenanya, alat pendingin harus diiringi prosedur aklimatisasi saat perpindahan zona.

Suhu Fluktuatif

Siklus siang–malam (misal 25–34 °C) mempercepat kerusakan karena ekspansi–kontraksi dan membuka celah mikro pada segel kemasan. Fluktuasi juga sering melintasi titik embun yang memicu kondensasi periodik.

Pengaruh Kelembaban terhadap Stabilitas

Kelembaban relatif (RH) memengaruhi water activity (aw) bahan. Jamur umumnya tumbuh saat aw ≥ 0,65–0,70. Pada simplisia higroskopis (daun/bunga), sedikit kenaikan RH dapat menaikkan aw signifikan karena bentuk kurva isoterm sorpsi. Dampak RH tinggi:

  • Jamur & mikotoksin, bau apek, bintik putih/hijau.
  • Caking (menggumpal), perubahan tekstur, kenaikan berat karena menyerap air.
  • Hidrolisis komponen sensitif air, penurunan potensi.

Sebaliknya, RH terlalu rendah (< 30%) membuat simplisia terlalu kering → rapuh, mudah pecah, susah digiling. Fluktuasi RH harian lebih berbahaya daripada RH sedikit tinggi tapi stabil, karena menimbulkan siklus sorpsi–desorpsi.

Interaksi Suhu–RH & Kondensasi

Suhu dan kelembaban saling terkait. Pada suhu tinggi, udara menahan lebih banyak uap air; ketika udara lembap mendingin, kelembaban relatif naik menuju 100% dan uap mengembun menjadi air (titik embun). Kondensasi pada dinding/liner/permukaan bahan adalah pemicu jamur tercepat. Tiga prinsip pencegahan:

  1. Aklimatisasi saat memindahkan bahan dari dingin ke hangat/lembap; tunggu mencapai suhu ruang sebelum buka segel.
  2. Sirkulasi udara di gudang; hindari tumpukan menempel dinding.
  3. Segel kemasan rapat untuk mencegah pertukaran uap air berlebih.

Standar Penyimpanan (ASEAN/WHO/Farmakope)

ASEAN (Zona Iklim)

Asia Tenggara diklasifikasikan sebagai Zone IVa (panas–lembap) dan Zone IVb (panas–sangat lembap) untuk uji stabilitas. Acuan umum untuk penyimpanan praktis simplisia kering:

  • Target suhu gudang: ≤ 25–30 °C (stabil; fluktuasi minimal).
  • Target RH gudang: ≤ 60% (untuk daun/herba higroskopis), ≤ 65% untuk bahan lain.
  • Untuk uji stabilitas: Zone IVa ≈ 30 °C/65% RH; Zone IVb ≈ 30 °C/75% RH.

WHO

WHO menganjurkan penyimpanan bahan obat di tempat sejuk, kering, dan terlindung cahaya:

  • Suhu tidak melebihi 30 °C,
  • RH praktik ≤ 65%,
  • Gudang bersih, bebas hama, dengan ventilasi memadai.

Farmakope Indonesia

Prinsip: tempat sejuk, kering, terlindung dari cahaya. Banyak pelaku menetapkan spesifikasi internal: suhu 25–30 °C dan RH 50–60% untuk simplisia kering. Standar tiap komoditas dapat berbeda sesuai monografi.

Pemilihan Kemasan untuk Penyimpanan

Performa kemasan ditentukan terutama oleh WVTR (laju tembus uap air) dan OTR (laju tembus oksigen). Semakin rendah angka-angka itu, semakin baik perlindungan.

Perbandingan material kemasan (ilustratif).
Material WVTR OTR Kelebihan Keterbatasan Rekomendasi
Karung PP tanpa liner Rendah (perlindungan lemah) Rendah Kuat, murah Mudah serap uap air Hanya untuk sirkulasi cepat
PP/PE + liner PE tebal Sedang Rendah–sedang Umum & ekonomis Kurang untuk aromatik Tambahkan desikan; segel panas
PA/PE (nylon laminasi) Sedang–tinggi Sedang Tahan tusukan Biaya menengah Baik untuk rimpang rajang
PET/AL/PE (foil) Tinggi Tinggi Proteksi uap air/oksigen/cahaya Lebih mahal Utamakan untuk aromatik/ekspor
Drum fiber + liner Sedang–tinggi Sedang–tinggi Rapi, aman tumpuk Perlu ruang Gudang menengah–besar
  1. Gunakan liner PE 80–120 ยตm dan sealer panas untuk meminimalkan kebocoran uap air.
  2. Tambahkan desikan berindikator; ganti bila jenuh.
  3. Untuk bahan kaya minyak atsiri, pilih foil agar volatil tetap terjaga.
  4. Evaluasi ukuran headspace; pertimbangkan vacuum atau MAP (nitrogen).

Penanganan Palet & Tata Letak Gudang

Palet

  • Gunakan palet plastik/kayu kering; hindari kontak langsung karung dengan lantai (naik ≥ 10–15 cm).
  • Periksa palet dari jamur/serangga; hindari palet bekas bahan kimia.

Tata Letak

  • Jarak tumpukan–dinding ≥ 20–30 cm untuk sirkulasi udara.
  • Tinggi tumpukan sesuai rekomendasi kemasan untuk mencegah kompresi berlebih.
  • Implementasi FEFO/FIFO dengan label jelas; susun rak berdasarkan tanggal.
  • Zonasi gudang: karantina, rilis, retur, bahan sensitif (aromatik) → area teduh dan sejuk.

Teknologi Penyimpanan (Tradisional–Modern)

Tradisional/Adaptif

  • Gudang berdinding breeze block/bambu dengan ventilasi silang; atap berinsulasi.
  • Karung goni dengan inner liner plastik tebal; ruang teduh minim cahaya.

Modern

  • AC + dehumidifier untuk menjaga T 25–30 °C dan RH 50–60%.
  • Cold room terkontrol + prosedur aklimatisasi untuk bahan berisiko tinggi.
  • Vacuum packaging & MAP (nitrogen/CO₂) untuk kurangi oksidasi.
  • IoT data logger dengan alarm jika T/RH melewati batas.

SOP Penerimaan–Penyimpanan–Distribusi

1) Penerimaan

  1. Pemeriksaan visual/organoleptik (warna, bau, jamur, hama).
  2. Verifikasi pemasok & dokumen (COA bila ada), timbang, kode batch, label karantina.
  3. Ukur kadar air sampel; bandingkan spesifikasi internal.

2) Penyimpanan

  1. Pendinginan pascapengeringan sebelum kemas; hindari kemas saat bahan masih panas.
  2. Pilih kemasan sesuai risiko; pasang liner & desikan; segel panas.
  3. Tempatkan di palet; jaga jarak dinding; atur zonasi; terapkan FEFO/FIFO.
  4. Monitoring T/RH harian; inspeksi jamur/hama mingguan; uji kadar air berkala.

3) Penanganan Deviasi

  1. Jika RH > batas → tambah desikan, nyalakan dehumidifier, rapikan ventilasi, minimalkan bukaan pintu.
  2. Jika jamur terdeteksi → karantina lot, root-cause, evaluasi repacking/pengeringan ulang terkontrol.
  3. Dokumentasikan CAPA dan validasi efektivitas aksi.

4) Distribusi

  1. Rilis oleh QA; periksa integritas segel.
  2. Angkut dengan kendaraan bersih, kering, terlindung panas; hindari hujan/embun.
  3. Catat suhu/RH transport (jika sensitif) dan simpan DO untuk traceability.

Tabel Ringkas & Panduan Cepat

Kisaran target penyimpanan berdasarkan jenis simplisia (umum).
Jenis Suhu Target RH Target Risiko Utama Umur Simpan Umum
Daun/Herba ≤ 25–30 °C ≤ 55–60% Jamur, warna pudar, aroma hilang 12–18 bulan
Rimpang/Batang ≤ 25–30 °C ≤ 60% Jamur permukaan, rekah jika terlalu kering 12–24 bulan
Biji berminyak ≤ 25 °C ≤ 50–55% Oksidasi lemak (ketengikan) 9–18 bulan
Buah/Bunga kering ≤ 25–30 °C ≤ 55–60% Perubahan warna/bau 12–18 bulan
Checklist audit gudang (ringkas).
Item Frekuensi Kriteria Tindakan Korektif
Pencatatan suhu/RH Harian T ≤ 30 °C; RH ≤ 60% Dehumidifier/AC, kurangi bukaan pintu
Inspeksi jamur/hama Mingguan Tidak ada noda jamur/serangga Karantina lot; pembersihan; pest control
Integritas kemasan Setiap penerimaan/keluar Segel utuh, liner tidak bocor Repacking; ganti liner/seal
FEFO/FIFO Bulanan Rak terurut tanggal Relayout; label ulang

Ilustrasi Zona Suhu–RH

Diagram hubungan suhu dan kelembaban relatif terhadap risiko kerusakan simplisia di gudang tropis
Garis putus: batas praktis T 30 °C dan RH 60%. Area aman berada di kiri-bawah; area kanan-atas berisiko jamur, kondensasi, dan kehilangan volatil.

Unduh ilustrasi PNG

Rangkuman & Rekomendasi

Kendali mutu penyimpanan simplisia bertumpu pada empat pilar: suhu, RH, kemasan, dan SOP gudang. Suhu mempercepat degradasi kimia; RH menaikkan aw dan memicu jamur; interaksi keduanya mencetus kondensasi. Standar ASEAN (Zone IVa/IVb), WHO, dan Farmakope memberi kompas praktis: jaga T ≤ 25–30 °C, RH ≤ 60–65%, minim cahaya, serta ventilasi memadai. Gunakan kemasan ber-barrier (foil untuk aromatik), palet & tata letak yang memberi sirkulasi, dan SOP penerimaan–penyimpanan–distribusi yang disiplin. Dengan program monitoring dan CAPA, umur simpan realistis 12–24 bulan dapat dicapai secara konsisten.

FAQ

Mengapa RH 60% sering jadi batas aman gudang?

Di banyak simplisia kering, RH > 60% meningkatkan aw mendekati ambang pertumbuhan jamur (≈ 0,65–0,70). Batas ini memberi margin untuk fluktuasi harian.

Kapan sebaiknya gunakan kemasan aluminium foil?

Untuk bahan aromatik/berminyak, penyimpanan > 12 bulan, atau gudang sulit menjaga RH rendah. Foil memberikan barrier unggul terhadap uap air, oksigen, dan cahaya.

Apakah desikan selalu diperlukan?

Tidak selalu. Namun, pada gudang lembap dan bahan higroskopis, desikan membantu menjaga aw tetap rendah. Pastikan kapasitas dan indikatornya dipantau.

Bagaimana mencegah kondensasi saat memindahkan barang dari dingin?

Lakukan aklimatisasi: biarkan kemasan mencapai suhu ruang sebelum dibuka. Hindari perubahan suhu ekstrem mendadak dan jaga aliran udara.

Apakah perlu uji stabilitas untuk menentukan umur simpan?

Ya. Uji stabilitas real-time pada kondisi gudang Anda adalah dasar ilmiah untuk menetapkan shelf life. Pantau kadar air, aw, mikroba, penanda kimia, dan organoleptik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Website Jurnal Kesehatan Indonesia Gratis : Website Jurnal Kesehatan, Jurnal Kesehatan dengan Biaya Publikasi Gratis

Standarisasi dan Mutu Simplisia dalam Farmasi (Lengkap)

Pengertian dan Pengolahan Simplisia Dan Contohnya