Klasifikasi Simplisia: Nabati, Hewani, dan Mineral (Lengkap + Studi Kasus Jamu)

Gambar klasifikasi simplisia, jenis simplisia, pembagian simplisia
Jenis dan Klasifikasi Simplisia
Klasifikasi Simplisia: Nabati, Hewani, dan Mineral (Lengkap + Studi Kasus Jamu)

Klasifikasi Simplisia: Nabati, Hewani, dan Mineral

Memahami klasifikasi simplisia mempermudah pemilihan bahan, desain proses, dan kontrol mutu. Artikel ini mengulas tiga kelompok utama—nabati, hewani, dan mineral—diikuti studi kasus jamu populer (kunyit asam, wedang jahe, temulawak) lengkap dengan formulasi, parameter pengolahan, dan checklist QC agar bisa langsung dipraktikkan oleh mahasiswa, pelaku UMKM, dan praktisi herbal.

Pendahuluan & Ruang Lingkup

Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat tanpa perubahan struktur kimia (selain pengeringan, sortasi, pemotongan). Klasifikasi dibagi tiga: nabati (asal tumbuhan), hewani (asal hewan), dan mineral (asal bahan mineral). Setiap kelompok menuntut pendekatan pengolahan, penyimpanan, dan pengujian mutu yang berbeda.

Manfaat praktis memahami klasifikasi:
  • Menentukan metode pengeringan (matahari, kabinet, oven, freeze-drying).
  • Menetapkan kadar air target dan kemasan (kedap, gelap, desikan).
  • Memetakan risiko kontaminasi (mikroba, logam berat, oksidasi lemak).
  • Menyusun SOP dari panen hingga penyimpanan gudang.

Simplisia Nabati

Kelompok nabati mencakup bagian-bagian tanaman: daun, bunga, buah, biji, kulit batang, batang/herba, akar, dan rimpang. Dua pendekatan klasifikasi yang praktis: berdasarkan bagian tanaman dan kandungan utama.

Berdasarkan Bagian Tanaman

BagianContohCatatan Mutu & PenangananKegunaan
Daun Sirih, jambu biji, pegagan Tipis, mudah pudar/menghitam → suhu rendah 40–50 °C; sirkulasi baik. Antiseptik, antiinflamasi, sirkulasi
Bunga/Kelopak Rosella, kuncup cengkeh Peka panas; lindungi warna & aroma; hindari UV langsung lama. Teh herbal, antimikroba, antioksidan
Buah Adas, ketumbar Kaya minyak atsiri; simpan kedap; hindari suhu tinggi. Karminatif, pencernaan
Biji Pala, jintan Lemak/atsiri mudah tengik; keringkan merata; kemas kedap oksigen. Aromatik, pencernaan
Kulit Batang Kayu manis Kontaminasi debu mudah; kontrol kelembapan gudang (RH < 60%). Aromatik, metabolik
Batang/Herba Meniran, kumis kucing Kadar air awal tinggi; rajang tipis; ventilasi penting. Diuretik, imunomodulator
Akar Alang-alang Tebal/berserat; pemotongan seragam percepat kering. Penyejuk, diuretik
Rimpang Jahe, kunyit, temulawak Kaya atsiri/kurkuminoid; suhu moderat; segel rapat pasca-kering. Antiinflamasi, hepatoprotektif, karminatif

Tip: ketebalan irisan 2–4 mm (rimpang) sering jadi kompromi terbaik antara waktu kering & kualitas.

Berdasarkan Kandungan Utama

  • Minyak atsiri tinggi: jahe, pala, kayu manis, cengkeh, adas. Risiko: volatil → batasi suhu; kemas kedap.
  • Flavonoid/antosianin: rosella, pegagan. Risiko: pudar oleh panas/UV → gunakan teduh/low-temp dryer.
  • Alkaloid/diterpen lakton: sambiloto, beberapa kulit batang. Risiko: degradasi oksidatif → proses cepat, simpan gelap.
  • Tanin: daun jambu biji, teh. Risiko: astringensi bila overprocess; hindari kontak logam berkarat.
  • Saponin/polisakarida: temulawak, ginseng (non-lokal). Risiko: degradasi enzimatik jika lambat diolah.

Penanganan & Tips Mutu

  1. Panen saat kadar metabolit puncak (beda tiap organ/jenis).
  2. Sortasi & cuci cepat; jangan direndam lama (kurangi pelindian).
  3. Rajang seragam; gunakan alat bersih (food grade).
  4. Gunakan suhu moderat dengan aliran udara konstan; balik tray berkala.
  5. Sejukkan sebelum kemas; gunakan pouch kedap + desikan bila perlu.

Simplisia Hewani

Mencakup jaringan/organ hewan, sekresi, atau produk olahan alami. Karena asal biologis, aspek higienitas, stabilitas lemak, dan legalitas sangat penting.

Sumber & Contoh

KelompokContohKegunaanCatatan
Produk Lebah Madu, propolis, royal jelly Imunomodulator, antimikroba, nutrisi Kontrol kadar air & cemaran; hindari pemalsuan.
Minyak Ikan Minyak hati kod, omega-3 Kardiovaskular, antiinflamasi Oksidasi lemak; simpan dingin & kedap cahaya.
Empedu/Enzim Empedu sapi (tradisional), tripsin Digestif (tradisional), enzimatik Legalitas & asal jelas; risiko patogen.
Kitosan Cangkang udang/kepiting (olah) Wound dressing, adsorben Potensi alergen; proses terstandar.

Keamanan & Legalitas

  • Higienitas: sumber bebas penyakit; sanitasi alat/wadah.
  • Stabilitas: banyak mengandung lemak → risiko tengik; tambahkan antioksidan alami bila perlu.
  • Legalitas: patuhi regulasi, pertimbangkan sertifikasi halal.
  • Alergen: wajib labeling untuk produk krustasea/dll.

Simplisia Mineral

Berupa bahan anorganik alami. Umumnya sebagai adsorben, pelindung kulit, atau korektor pencernaan. Fokus utama: kemurnian dan kontaminan (logam berat, partikel halus).

Jenis & Contoh

JenisContohFungsiCatatan
Belarang (Sulfur) Serbuk sulfur Topikal penyakit kulit Perhatikan ukuran partikel & kemurnian.
Kaolin Tanah liat putih Adsorben pencernaan Cek logam berat; kemasan kering.
Talc Magnesium silikat Pelicin/penyerap Grade farmasi; hindari kontaminan.

Kualitas & Kontaminan

  • Logam berat (Pb, Cd, Hg) → pastikan hasil uji memenuhi batas aman.
  • Partikel halus → iritasi jika terhirup; gunakan alat pelindung saat proses.
  • Kelembapan → simpan kering, wadah kedap.

Perbandingan Cepat Nabati vs Hewani vs Mineral

AspekNabatiHewaniMineral
Sumber utama risiko Jamur, degradasi aroma/warna Patogen, oksidasi lemak Kontaminan anorganik/logam berat
Metode kering umum Solar/kabinet 40–60 °C Lyophilization/udara dingin (produk sensitif) -
Kemasan ideal Kedap + desikan; gelap Kedap cahaya + suhu sejuk Kedap, kering

Studi Kasus Jamu & Herbal Populer

Bagian ini menyajikan formulasi praktis, parameter proses, dan checklist mutu untuk tiga produk populer: kunyit asam, wedang jahe, dan temulawak. Angka-angka dibuat realistis agar mudah diterapkan skala rumah/UMKM.

Kunyit Asam

Formulasi (untuk ±1 liter minuman):
  • Rimpang kunyit rajang kering: 30–40 g (setara 120–150 g segar)
  • Asam jawa: 25–30 g
  • Gula aren/semut: 60–80 g (sesuaikan)
  • Air: 1.2 L → hasil akhir ±1 L
  • Opsional jeruk nipis 5–10 ml untuk aroma segar
Parameter Proses:
  • Rebus air + asam 5 menit; masukkan rajang kunyit kering.
  • Didihkan ringan 10–15 menit; jangan bergolak kuat (kurangi volatilisasi).
  • Saring halus; larutkan gula saat panas; dinginkan cepat.
  • Kemas panas (hot-fill) ke botol steril; simpan dingin (≤4 °C).
Checklist QC cepat:
  • Warna oranye cerah; tidak keruh berlebihan.
  • Aroma kunyit & asam seimbang; tidak gosong.
  • Total padatan terlarut (opsional) 5–10° Brix.
  • Kemas rapat; uji mikro sederhana jika produksi berulang.

Wedang Jahe

Formulasi (±1 liter):
  • Rimpang jahe rajang kering: 25–35 g (setara 100–140 g segar)
  • Gula batu/aren: 70–90 g
  • Kayu manis kecil: 1–2 g (opsi)
  • Cengkeh: 1–2 butir (opsi)
  • Air: 1.2 L → hasil akhir ±1 L
Parameter Proses:
  • Seduh jahe kering air panas 90–95 °C 15 menit (metode seduh).
  • Atau reneh 10–12 menit untuk rasa lebih kuat.
  • Tambahkan kayu manis/cengkeh 3–5 menit terakhir.
  • Saring; larutkan gula; sajikan hangat atau kemas panas.
Checklist QC cepat:
  • Aroma jahe tajam; rasa hangat tidak getir berlebih.
  • Warna kuning kecokelatan jernih.
  • Kekeruhan rendah; tidak ada partikel besar tersisa.

Ekstrak Temulawak (Sirup Konsentrat)

Formulasi (hasil ±500 ml sirup):
  • Rimpang temulawak rajang kering: 50–70 g (≈ 200–300 g segar)
  • Air penyari: 1.5 L (batch ekstraksi)
  • Gula: 250–300 g (atur kekentalan)
  • Opsional madu 50 ml; jeruk nipis 10 ml
Parameter Proses:
  • Masak reneh 20–25 menit; saring.
  • Ulang ekstraksi kedua 10–15 menit; gabungkan filtrat.
  • Reduksi volume hingga ±600–700 ml (api kecil, tutup sebagian).
  • Masukkan gula (dan madu saat suhu < 60 °C); homogenkan.
Checklist QC cepat:
  • Warna kuning-oranye pekat; aroma khas temulawak.
  • Rasa pahit ringan tertutup manis; tanpa rasa gosong.
  • Kekentalan konsisten; simpan dingin, botol steril.

Catatan: untuk skala lebih besar, pertimbangkan filtrasi tekanan rendah dan pasteurisasi singkat 72–75 °C (15–30 detik).

Checklist QC & Parameter Proses

TahapParameter KunciTarget PraktisAlasan
Pengeringan nabati Suhu & waktu 40–60 °C, hingga kadar air ±8–12% Menekan jamur, menjaga volatil/warna.
Penyimpanan nabati Kemasan Pouch kedap + desikan; ruang sejuk & gelap Mencegah serap uap air & oksidasi.
Produk hewani Perlindungan lemak Botol gelap, suhu dingin; minim oksigen Kurangi ketengikan (oksidasi).
Mineral Kemurnian/partikel Uji logam berat; simpan kering Keamanan & kepatuhan mutu.
Angka-angka di atas adalah patokan praktis untuk skala rumah/UMKM. Sesuaikan dengan hasil uji bahan dan peralatan yang tersedia.

SOP Ringkas Penerimaan & Pascapanen

  1. Penerimaan: catat pemasok, tanggal, jenis & bagian tanaman, kondisi fisik (warna, aroma, kebersihan).
  2. Sortasi: pisahkan benda asing (tanah, batu, daun busuk); cuci cepat bila perlu.
  3. Perajangan: seragam; alat bersih; tebal 2–4 mm untuk rimpang.
  4. Pengeringan: pilih metode; catat suhu/waktu; balik tray.
  5. Penyimpanan: dinginkan → kemas kedap → label batch → simpan gelap & sejuk.

Mitos vs Fakta Simplisia

  • Mitos: Semakin panas semakin cepat dan semakin bagus.
    Fakta: Panas berlebih merusak aroma/warna & menurunkan kualitas.
  • Mitos: Semua simplisia aman tanpa dosis.
    Fakta: Dosis & cara olah memengaruhi keamanan dan efektivitas.
  • Mitos: Kemasan biasa sudah cukup.
    Fakta: Bahan aromatik butuh kemasan kedap & gelap.

Glosarium Istilah

  • Volatil: mudah menguap (minyak atsiri).
  • Desikan: penyerap kelembapan (silika gel, dll.).
  • Hot-fill: pengisian saat produk masih panas untuk memperpanjang simpan.
  • Reneh: didihkan ringan, bukan bergolak.

Rangkuman & Kesimpulan

Klasifikasi simplisia—nabati, hewani, mineral—menjadi peta jalan untuk memilih bahan, merancang proses, dan menjaga mutu. Kelompok nabati kaya keragaman dan paling umum digunakan, tetapi membutuhkan kontrol suhu & kelembapan yang cermat. Kelompok hewani menekankan higienitas dan stabilitas lemak, sedangkan kelompok mineral fokus pada kemurnian dan kontrol kontaminan. Tiga studi kasus (kunyit asam, wedang jahe, ekstrak temulawak) menunjukkan bagaimana formulasi sederhana, parameter proses, dan checklist QC bisa segera diterapkan pada skala kecil maupun UMKM. Dengan dokumentasi batch dan SOP ringkas, kualitas lebih konsisten, keamanan lebih terjaga, dan nilai produk meningkat.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Bagaimana cara menentukan suhu pengeringan yang tepat?

Mulai dari suhu moderat (40–50 °C) untuk bagian tipis/peka aroma (daun, bunga), dan 50–60 °C untuk rimpang/biji berlemak. Amati perubahan warna & aroma; jika memudar tajam, turunkan suhu dan perpanjang waktu.

Berapa kadar air aman untuk penyimpanan simplisia nabati?

Umumnya ±8–12%. Di bawah angka ini, risiko jamur menurun. Namun, setiap komoditas bisa sedikit berbeda—utamakan uji kelembapan dan kondisi gudang kering.

Apakah perlu desikan dalam kemasan?

Tidak wajib, tetapi disarankan untuk bahan aromatik/peka kelembapan. Pastikan desikan tidak kontak langsung dengan produk (gunakan sachet terpisah).

Apakah formulasi studi kasus bisa diubah?

Bisa. Formulasi yang diberikan adalah titik awal. Silakan sesuaikan intensitas rasa, brix, atau kekentalan sesuai preferensi dan hasil uji panel.

Bagaimana memastikan keamanan produk hewani?

Gunakan sumber tepercaya, proses higienis, kemasan kedap cahaya, simpan dingin, dan pertimbangkan uji mikro/oksidasi lemak untuk produksi rutin.

Bisakah artikel ini diterapkan pada skala sekolah/mahasiswa?

Bisa. Angka dan prosedur disesuaikan agar realistis di laboratorium pendidikan atau produksi kecil, dengan prioritas keselamatan kerja dan kebersihan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Website Jurnal Kesehatan Indonesia Gratis : Website Jurnal Kesehatan, Jurnal Kesehatan dengan Biaya Publikasi Gratis

Standarisasi dan Mutu Simplisia dalam Farmasi (Lengkap)

Pengertian dan Pengolahan Simplisia Dan Contohnya